Selamat Beraktifitas,, Tetap Semangat,, Raih Semua Impian,, dan Jangan Pernah Lupakan Tuhanmu

Pages

.

News Pages



Popular Posts

.

Profil


Goblok Enjoy Aza Eui...??!!

Kamis, 25 Februari 2010


Judul buku : Guru Goblok Ketemu Murid Goblok
Penulis : Iman Supriyono
Penerbit : SNF Consulting, Surabaya

Sangat banyak di negeri ini orang yang sesungguhnya pantas disebut sebagai orang goblok, tetapi tidak pernah mau untuk mengakui kegoblokannya. Apalagi sampai dengan menyadari bahwa dirinya benar-benar goblok. Mengapa demikian? Memang sangat memerahkan telinga --dan pasti ingin melakukan tindakan-tindakan yang benar-benar ''goblok''-- apabila ada yang menyematkan identitas pada diri dengan panggilan ''orang goblok''.

Meskipun demikian, di balik sangat banyaknya orang goblok yang emoh disebut sebagai orang goblok, masih ada sebagian kecil orang yang sudi untuk mengakui dan menyadari bahwa dirinya memang goblok. Bahkan mereka tampak enjoy untuk menyebut dan disebut sebagai orang goblok. Mengapa pula demikian? Karena dengan memproklamasikan diri sebagai ''orang goblok'', mereka mampu melapangkan jalan kesempatan yang luas dan panjang untuk selalu belajar dan belajar.

Salah satu manusia langka yang tidak malu untuk mendeklarasikan diri sebagai ''orang goblok'' adalah Iman Supriyono (dan gurunya, Abdul Rachim). Dengan kesadarannya yang sangat dalam sebagai orang goblok, akhirnya buku Guru Goblok Ketemu Murid Goblok ini pun lahir. Hebatnya lagi, buku Iman Supriyono yang (merasa) goblok ini merupakan karya buku ke-7. Hebat kan, orang goblok bisa menulis buku, sampai tujuh lagi. Padahal yang selama ini mengaku ''pinter'' saja banyak yang tidak mampu menggoreskan satu pun kalimat bermakna, dan selalu marah kalau dipanggil ''goblok''.

Tapi Iman Supriyono dan gurunya bukanlah orang ''goblok'' yang sembarang goblok. Mereka adalah jenis manusia ''goblok'' khusus. Menurutnya, kegoblokan manusia itu dapat dipilah menjadi tiga tingkatan. Yakni, orang goblok yang masih menyadari bahwa dirinya goblok. Goblok tingkat pertama ini bahkan menurut Iman Supriyono merupakan goblok yang disarankan. Seseorang boleh saja (dan bahkan harus) merasa goblok. Syaratnya, masih menyadari bahwa dirinya goblok dan kemudian mau belajar terus. Bahkan setiap saat kita harus merasa goblok. Maksudnya? Setiap saat merasa ada sesuatu yang kita ingin bisa tetapi belum bisa. Tindak lanjutnya dengan belajar hingga bisa. Begitu bisa, segera temukan apa lagi yang belum bisa. Temukan satu kegoblokan lagi. Demikian seterusnya. Selalu goblok (hlm. 83). Inilah yang disebut sebagai ''goblok dinamis" atau goblok yang beruntung.

Sedangkan tingkatan kedua, orang goblok yang tidak menyadari bahwa dirinya goblok. Orang goblok jenis ini tidak akan pernah berkembang (stagnan). Inilah yang juga bisa disebut dengan ''goblok statis'', karena membiarkan diri untuk tetap goblok dalam satu hal selamanya.

Dan, tingkatan ketiga, orang goblok yang tidak merasa dirinya goblok dan bahkan suka menggoblok-goblokkan orang lain. Inilah jenis manusia yang terjangkiti penyakit goblok total, goblok sempurna, goblok absolut. Orang goblok absolut ini bila dinasehati tentang kegoblokannya, serta merta ia menolak. Bahkan merasa dirinya lebih pintar dari orang yang menasehatinya. Inilah jenis manusia yang merasa pintar padahal goblok. Karena itu, Iman Supriyono mewanti-wanti agar kita tidak termasuk golongan orang yang goblok jenis ini. Bahaya !!! (hlm. 84).

Tetapi, untuk menjadi ''goblok dinamis'' pun membutuhkan kecerdasan yang berlipat. Untuk belajar menumbuhkan kesadaran sebagai orang goblok, dibutuhkan seorang guru yang bisa mendidik untuk bisa merasa goblok. Nah, guru jenis ini pun ternyata juga sangat langka. Sebab yang banyak ialah guru yang menuntut muridnya pintar dan cenderung menyisihkan murid yang bergaya goblok. Sang guru kerapkali juga tidak mau dikalahkan oleh muridnya, sehingga dia sendiri pun kemudian menjadi sok pintar dan keminter.

Karena itulah, Iman Supriyono pantas merasa bersyukur karena bisa bertemu dan mendapatkan guru yang sudi mendidiknya untuk bisa merasa goblok. Lebih dari itu, Pak Rohim --yang diklaimnya sebagai guru (dalam buku ini)-- rela untuk menggoblokkan dirinya yang tidak pernah bosan untuk mendidik dan bahkan memberi kepercayaan terhadap murid-muridnya yang goblok.

Dengan tempaan guru gobloknya, akhirnya Iman Supriyono yang saat ini merupakan konsultan senior di SNF Consulting tidak pernah berhenti untuk terus merasa goblok. Salah satu bukti kesadaran akan kegoblokan dirinya ialah tentang mimpinya untuk bisa membuat kantor konsultan yang bisa dipercaya perusahaan-perusahaan kelas dunia. Akan tetapi hingga saat ini belum tercapai. Belum bisa. Goblok. Dan, karena itu, ia tidak akan pernah berhenti untuk mengentaskan diri dari ambisi goblok tersebut hingga mimpinya jadi kenyataan.

Memperhatikan semangat Iman Supriyono yang meledak-ledak untuk membakar jiwa entrepreneur dan investor ini, maka kehadiran buku perlu menjadi pegangan wajib bagi mereka yang ingin melepaskan diri dari kegoblokan statis dan bahkan kegoblokan absolut. Bahkan tidak hanya bagi mereka yang sedang ingin mengembangkan usaha bisnis jasa saja, tetapi juga para pendidik (guru dan dosen) yang selalu merasa sok lebih pandai dari murid atau mahasiswanya. Teladan Pak Rohim --yang selalu merasa sebagai guru goblok-- perlu diwarisi para pemegang kunci gerbang dunia akademis.

Ada banyak kelebihan dari buku ini. Bahasa yang digunakan sangat mengalir dan enak untuk dibaca --saya seperti sedang membaca sebuah novel. Selain itu, sentilan-sentilan pedas tidak justru membuat kita marah dan menutup buku. Tapi sebaliknya, justru kian bernafsu untuk menuntaskannya. Tidak ada kata lain untuk memuaskan rasa penasaran di balik judul buku yang terkesan ''melecehkan'' itu, kecuali membaca isinya. Karena hanya orang-orang goblok absolut saja yang pasti enggan untuk menikmati buku ini. (*)
Read Post | komentar

Berani GAGAL ?!!

Selasa, 23 Februari 2010



Hanya orang yang berani gagal total, akan meraih keberhasilan total.
– John F Kennedy

PERNYATAAN John. F. Kennedy ini saya yakini kebenarannya. Itu bukan sekedar retorika, tetapi memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup saya. Gagal total itulah awal karier bisnis saya.
Pada akhir 1981, saya merasa tak puas dengan pola kuliah yang membosankan. Saya nekad meninggalkan kehidupan kampus. Saat itu saya berpikir, bahwa gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal dalam mengejar cita-cita lain. Di tahun 1982, saya kemudian mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.

Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Dari awalnya yang sangat sepi peminat – hanya 2 orang – sampai akhirnya peminatnya membludak hingga Primagama dapat membuka cabang di ratusan kota, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia.

Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang yang sukses dari pada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal.

Maka, bila Anda seorang entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, maka jangan berharap orang akan memuji Anda. Jangan berharap pula orang di sekitar anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal.

Jangan berharap Anda tidak disalahkan. Jangan berharap juga semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda. Jangan berharap Anda akan mendapat dukungan moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara. Jangan berharap bank akan memberikan pinjaman selanjutnya.

Mengapa saya melukiskan gambaran yang begitu buruk bagi seorang entrepreneur yang gagal? Begitulah masyarakat kita, cenderung memuji yang sukses dan menang. Sebaliknya, menghujat yang kalah dan gagal. Kita sebaiknya mengubah budaya seperti itu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang yang kedua.

Menurut pengalaman saya, apabila orang gagal, maka tidak ada gunanya murung dan memikirkan kegagalannya. Tetapi perlu mencari penyebabnya. Dan justru kita harus lebih tertantang lagi dengan usaha yang sedang kita jalani yang mengalami kegagalan itu. Saya sendiri lebih suka mempergunakan kegagalan atau pengalaman negatif itu untuk menemukan kekuatan-kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali.

Sudah tentu, kasus kegagalan dalam bisnis maupun dunia kerja, saat krisis ekonomi kian merebak dan bertambah. Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kehilangan mata pencahariannya. Sungguh ironis, seperti halnya kita, suka atau tidak suka, setiap manusia pasti akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan.

Bagi seorang entrepreneur, sebaiknya jangan sampai terpuruk dengan kondisi dan suasana seperti itu. Kita harus berani menghadapi kegagalan, dan ambil saja hikmahnya (kejadian dibalik itu). Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi gagah, tatkala lemah. Menjadi berani ketika kita takut. Itu sebabnya mengapa saya juga sepakat dengan pendapat Richard Gere, aktor terkemuka Hollywood, yang mengatakan bahwa kegagalan itu penting bagi karier siapapun.

Mengapa demikian? Karena selama ini banyak orang membuat kesalahan sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Justru sebaliknya, kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan.
Ada beberapa sebab dari kegagalan itu sendiri. Pertama, kita ini sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu “melankolis” dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.

Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Bila kita mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan menemui kegagalan, maka sebaiknya kia bekerja sepuluh kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran semacam itu, maka akan tetap menjadikan kita sebagai sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur seorang entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali.
Read Post | komentar

Tanpa Modal Memulai Bisnis Kreatif

Senin, 22 Februari 2010

Bisnis kreatif adalah segala jenis bisnis yang menggunakan ide alias kreativitas sebagai komoditas utamanya. Jadi bukan bisnis yang based on product atau based on service semata. Para pelakunya sering disebut creativepreneur, yang berasal dari creative + entrepreneur. Terjemahan bebasnya: entrepreneur yang berbisnis di wilayah kreatif. Atau wirausaha/wiraswasta/pengusaha ide.

Misalnya: periklanan, desain, arsitektur, pasarseni dan barang antik, kerajinan, fesyen, film, vedo, fotografi, permainan interaktif, music, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan computer dan perangkat lunak, televise dan radio serta riset dan pengembangan (Sumber: Studi Industri Kreatif Indonesia 2007, Departemen Perdagangan RI)

Ok, kita langsung terjun ke praksis.

Apa yang dijual Microsoft? Apa yang dijual Apple? Apa yang dijual Ideo? Apa yang dijual Beatles? Apa yang dijual Slank? Apa yang dijual Garin Nugroho? Apa yang dijual Laskar Pelangi? Apa yang dijual Petakumpet?Ide. Ide?

Ya! Microsoft menjual software yang menggerakkan lebih dari 80% hardware komputer – dalam berbagai bentuknya – di muka bumi dengan ide jeniusnya. Apple menggabungkan kekuatan walkman, komputer portable dan download lagu via internet menjadi Ipod, lalu merevolusi telepon seluler dengan Iphone. Ideo menjual ide kreatif sebagai solusi atas permasalahan perusahaan-perusahaan yang menjadi kliennya, dari alat pacu jantung, mouse komputer, kereta dorong sampai mainan anak-anak. Beatles menjual gayanya yang khas dan lagu-lagunya yang easy listening ke seluruh dunia. Slank-pun jualannya sama, grup band ini begitu unik, tidak mengikuti aturan konvensional, dengan lagu-lagu bernafas pemberontakan atas status quo khas anak muda. Dan Garin menjadi seniman film dengan cerita yang kuat, menyentuh dan penggarapan artistik yang luar biasa.



gambar di: bokunosekai.wordpress.com/2008/09/

Lihatlah juga fenomena buku dan film Laskar Pelangi yang dibanjiri lebih dari 4.000.000 penonton? Jika rata-rata satu penonton membayar karcis Rp 15.000,- (untuk Empire 21), pemasukan kotornya dari penonton saja akan senilai Rp 60.000.000.000,- (enam puluh milyar rupiah). Belum dari penjualan VCD, DVD atau tayang ulang di televisi. Belum jika diekspor ke mancanegara.

Fenomena kesuksesan mereka itu bahan bakunya gratis. Modalnya minim bahkan hampir nol. Harga jualnya bisa tak terbatas.

Tidakkah itu luar biasa?

Outing Petakumpet di Pangandaran, 15-17 Januari 2010
Lalu apa yang dijual Petakumpet?
Ya, sama. Ide (tapi yang) segar. Hanya itu. Misalnya, ide kreatiflah yang membuat sekeping dvd seharga Rp 4500,- laku dijual Rp 188.000.000,- Atau beberapa lembar kertas berisi story board yang menghasilkan billing Rp 1.700.000.000,- Ajaib kan?
Tapi sebelum jadi lebih penasaran, saya akan mulai dulu dengan satu hal penting yang mendasari aspek selanjutnya dari bisnis kreatif.Sudut pandang manusia atas suatu hal – menurut David J. Schwartz dalam bukunya The Magic of Thinking Big – dibagi 2 hal: pandangan riil dan pandangan potensial.

Pandangan riil adalah pandangan yang kita lihat lewat kedua mata kita. Jika di depan kita ada sebuah tanah seluas 1 hektar, maka tanah itulah yang terlihat. Semua orang akan melihatnya sama: karena semua orang menggunakan - hanya - matanya.Tapi ada baiknya jika kita tidak menggantungkan sepenuhnya penilaian atas pandangan mata yang bersifat fisik ini. Karena pandangan visual ini bukan satu-satunya. Lagipula kemampuannya pun – karena sifatnya yang physical – menjadi terbatas. Mata hanya mampu melihat realitas: menyerap kenyataan seperti adanya.

Pandangan potensial adalah imajinasi kita atas suatu kenyataan. Dan inilah pembeda terbesar dari seseorang yang sukses luar biasa dan yang suksesnya biasa-biasa saja. Pandangan potensial melompati ruang dan waktu. Pandangan ini membuat seseorang memiliki visi tentang masa depannya. Seorang visioner mampu melihat 5, 10 tahun atau bahkan lebih jauh lagi, membayangkan kondisi ideal sampai detailnya dan membuat rencana-rencana sistematis untuk mewujudkannya.

Seseorang bisa melihat lahan satu hektar sebagai tempat ideal untuk membangun perumahan mewah atau real estate. Yang lain melihatnya sebagai hamparan padi di sawah yang menghijau. Yang lain melihatnya sebagai laboratorium yang untuk eksperimen obat-obatan tingkat dunia. Yang lain melihatnya sebagai masjid yang dikunjungi berduyun-duyun jamaah setiap waktu sholat tiba. Seribu satu kemungkinan bisa terwujud hanya dari satu kenyataan yang sama.

Karunia Tuhan yang ajaib bernama imajinasi yang dihasilkan otak itulah yang menjadi modal dasar kesuksesan kita: kemampuannya tak terhingga untuk mewujudkan impian kita yang luar biasa.

Memulai Bisnis Kreatif

Ok, ini bukan jawaban seorang akademisi. Ini adalah sudut pandang seseorang yang belajar bisnis di jalanan.

Saya akan cerita sedikit tentang Petakumpet: perusahaan yang katanya suka jualan ide segar. Sebagai salah satu finalis Dji Sam Soe Award 2006, dengan 350 lebih klien dan 89 national creative award winning di gudangnya, Petakumpet (http://www.petakumpetworld.com/) dimulai dari sekumpulan mahasiswa Diskomvis FSR ISI Yogyakarta 1994 yang kepepet, rejeki seret dengan pengetahuan manajemen nol besar. Tak ada modal uang, hanya seperangkat komputer 486 DX, printer, scanner, kuas, airbrush, compressor, yang semuanya dikumpulkan dari menyisihkan keuntungan bikin spanduk, sablon sampai ilustrasi manual. Oya, ditambah dengkul baja serta kepala batu.

Segalanya bermula dari mimpi sederhana tapi sering dianggap gila: dimuat di cover majalah Fortune (http://www.fortune.com/) sebagai The Most Admired Company in The World. Berlebihan dan norak? Biar saja, kita toh tak berhutang apapun pada orang yang tak percaya mimpi kita, seliar apapun. Mimpi itu saudara kandungnya ide: dua-duanya gratis. Jadi mengapa kita tak mimpi yang tinggi sekalian mumpung gratis? Betul?

Membangun bisnis ide tak tergantung dari seberapa besar modal fisik yang kita miliki (modal uang, teknologi, tempat, dsb.) tapi pada keyakinan, komitmen dan kreativitas kita untuk melakukan hal-hal yang diperlukan agar sukses. Bisnis ide yang adalah bisnis yang sangat murah, meskipun bukan bisnis yang paling mudah.Tapi tak perlu kuatir! Tak ada hal yang begitu sulit sehingga tak bisa dilakukan. Kata iklan sebuah brand sepatu: Impossible is nothing! Sebagai calon atau sudah jadi creativepreneur, jadikan ini sebagai keyakinan.

Kita bisa langsung bikin usaha dan melakukan perbaikan praktek bisnis sambil jalan. Learning by doing. Yang diperlukan di awal hanya keberanian. Jangan menunggu segala sesuatunya sempurna. Ambil resiko dengan penuh keberanian. Keberanian itu gratis, kita tak perlu membayar untuk memilikinya.

Nah tunggu apalagi? Mulailah sekarang.
Read Post | komentar

Menjadi Diri Sendiri





Alkisah, di puncak sebuah mercusuar, tampak lampu mercusuar yang gagah dengan sinarnya menerangi kegelapan malam. Lampu itu menjadi tumpuan perahu para nelayan mencari arah dan petunjuk menuju pulang.

Dari kejauhan, pada sebuah jendela kecil di rumah penjaga mercusuar, sebuah lampu minyak setiap malam melihat dengan perasaan iri ke arah mercusuar. Dia mengeluhkan kondisinya, “Aku hanyalah sebuah lampu minyak yang berada di dalam rumah yang kecil, gelap dan pengap. Sungguh menyedihkan, memalukan, dan tidak terhormat. Sedangkan lampu mercusuar di atas sana, tampak begitu hebat, terang dan perkasa. Ah….Seandainya aku berada di dekat mercusuar itu, pasti hidupku akan lebih berarti, karena akan banyak orang yang melihat kepadaku dan aku pun bisa membantu kapal para nelayan menemukan arah untuk membawanya pulang ke rumah mereka dan keluarganya.”

Suatu ketika, di suatu malam yang pekat, petugas mercusuar membawa lampu minyak untuk menerangi jalan menuju mercusuar. Setibanya di sana, penjaga itu meletakkan lampu minyak di dekat mercusuar dan meninggalkannya di samping lampu mercusuar. Si lampu minyak senang sekali. Impiannya menjadi kenyataan. Akhirnya ia bisa bersanding dengan mercusuar yang gagah. Tetapi, kegembiraannya hanya sesaat. Karena perbandingan cahaya yang tidak seimbang, maka tidak seorang pun yang melihat atau memperhatikan lampu minyak. Bahkan, dari kejauhan si lampu minyak hampir tidak tampak sama sekali karena begitu lemah dan kecil.

Saat itu, lampu itu menyadari satu hal. Ia tahu bahwa untuk menjadikan dirinya berarti, dia harus berada di tempat yang tepat, yakni di dalam sebuah kamar. Entah seberapa kotor, kecil dan pengapnya kamar itu, tetapi di sanalah lebih bermanfaat. Sebab, meski nyalanya tak sebesar mercusuar, lampu kecil itu juga bisa memancarkan sinarnya menerangi kegelapan untuk orang lain. Lampu kini tahu, sifat iri hati karena selalu membandingkan diri dengan yang lain, justru membuat dirinya tidak bahagia dan memiliki arti.


Pembaca yang budiman,
Hidup kita tentu akan menderita jika merasa diri sendiri selalu lebih rendah dan kecil. Maka, tidak akan tenang hidup jika kita selalu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain dan menganggap orang lain lebih hebat. Apalagi, jika kita kemudian secara membuta mencoba menjadi orang lain.
Meniru orang memang sah dan boleh saja. Namun, belajarlah dari orang lain dari sisi yang baik saja, tentu dengan tanpa mengecilkan dan meremehkan diri sendiri.
Karena itu, apapun keadaan diri, kita harus senantiasa belajar bersyukur dan tetap bangga menjadi diri sendiri. Selain itu, kita juga butuh melatih dan memelihara keyakinan serta kepercayaaan diri. Dengan menyadari kekuatan dan kelebihan yang kita miliki, dan mau berjuang selangkah demi selangkah menuju sasaran hidup yang telah kita tentukan, ditambah bekal kekayaan mental yang kita miliki, pastilah kemajuan dan kesuksesan yang lebih baik akan kita peroleh.

Jadilah diri sendiri! Be your self!
Salam sukses luar biasa!!!
Read Post | komentar

Sikap Mental ”Tukang Pipa & Tukang Pintu“

Kamis, 08 Oktober 2009



Ada dua kisah nyata inspiratif yang akan saya adaptasi. Pertama tentang seorang tukang pipa (plumber). Alkisah, bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman sedang pusing karena pipa keran airnya bocor, ia takut anaknya yang masih kecil terjatuh.

Setelah bertanya ke sana-kemari, dapatlah informasi seorang tukang terbaik. Melalui pembicaraan telepon, sang tukang menjanjikan dua hari lagi untuk memperbaiki pipa keran sang bos. Esoknya, sang tukang justru menelepon sang bos dan mengucapkan terima kasih. Sang bos sedikit bingung. Sang tukang menjelaskan, ia berterima kasih sebab sang bos telah mau memakai jasanya dan bersedia menunggunya sehari lagi.

Pada hari yang ditentukan, sang tukang bekerja dan bereslah tugasnya, lalu menerima upah. Dua minggu kemudian, sang tukang kembali menelepon sang bos dan menanyakan apakah keran pipa airnya beres. Namun, ia juga kembali mengucapkan terima kasih atas kesediaan sang bos memakai jasanya. Sebagai catatan, sang tukang tidak tahu bahwa kliennya itu adalah bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman.
Cerita belum tamat. Sang bos demikian terkesan dengan sang tukang dan akhirnya me-rekrutnya. Tukang itu bernama Christopher L. Jr dan kini menjabat General Manager Customer Satisfaction & Public Relation MERCEDES BENZ.

Dalam sebuah wawancara, Christopher menjawab, ia melakukan semua itu bukan sekadar tuntutan after sales service atas jasanya sebagai plumber. Jauh lebih penting, ia selalu yakin tugas utamanya bukanlah memperbaiki pipa bocor, tetapi keselamatan dan kenyamanan orang yang memakai jasanya. Christopher melihat lebih jauh dari tugasnya.

Kisah lain, tentang Mr. Lim yang sudah tua dan bekerja ”hanya” sebagai door-checker (memeriksa engsel pintu kamar hotel) di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Puluhan tahun ia jalankan pekerjaan membosankan itu dengan sungguhsungguh, tekun, dan sebaik-baiknya.

Ketika ditanya apakah ia tak bosan dengan pekerjaan menjemukan Mr. Lim Kitu, mengatakan, yang bertanya adalah orang yang tidak mengerti tugasnya. Bagi Mr. Lim, tugas utamanya bukanlah memeriksa engsel pintu, tetapi memastikan keselamatan dan menjaga nyawa para tamu.

Dijelaskan, mayoritas tamu hotelnya adalah manajer senior dan top manajemen. Jika terjadi kebakaran dan ada engsel pintu yang macet, nyawa seorang manajer senior taruhannya. Jika ia meninggal, sebagai decision maker, perusahaannya akan menderita. Jika misalnya perusahaan bangkrut, sekian ribu karyawannya akan menderita. Belum lagi keluarganya, termasuk anak istri manajer itu. Demikian jauh pandangan Mr. Lim, dan ia bukan lah sekedar door-checker.

Christopher L. Jr dan Mr. Lim relatif manusia sejenis. Keduanya bukan kelas manusia sedang atau biasa (Good People). Mereka jenis ”manusia besar atau manusia berlebih” (Great People) meski jabatan atau pekerjaan formal di suatu saat demikian ”rendah dan biasa saja”. Sikap mental mereka jauh lebih tinggi dari jabatan dan pekerjaan formalnya.”

Sudahkah kita memiliki sikap mental seperti itu ??????
Read Post | komentar

Perbedaan Orang Penuh Semangat dengan Pemalas

Selasa, 06 Oktober 2009



Visi …
Penuh Semangat : yakin dirinya pasti sukses,
Pemalas : bahkan tidak berani bermimpi dirinya bisa sukses.

Ketika menghadapi tantangan…
Penuh Semangat : menghadapinya dengan antusias,
Pemalas : mundur sebelum bertanding.

Saat menghadapi kesulitan…
Penuh Semangat : “Ini adalah proses menuju sukses..Maju terus!”
Pemalas :“It’s not work. Sia-sia saja... Capek ah. Nyerah aja “

Bila jatuh…
Penuh Semangat : berdiri lagi
Pemalas :”Ngapain bangun lagi, ntar jatuh lagi. Enak duduk aja.”

Menyerah ???..
Penuh Semangat : “Tidak ada dalam kamus hidupku. Never Give Up!”
Pemalas : “Biasa aja.. Aku sering koQ”

Di kala kegagalan menghampiri..
Penuh Semangat : bangkit lagi, mencari penyebab kegagalannya dan memperbaiki.
Pemalas : tenggelam dalam kegagalannya, stress dan sibuk mencari kambing hitam.

Ketika melihat orang lain sukses…
Penuh Semangat : “Hebat! Aku bisa belajar solusi sukses dari dia”
Pemalas :”Ah, baru segitu! Paling-paling juga korupsi. Eh? Paling dibantu bla bla bla..”

Cara memandang diri sendiri…
Penuh Semangat :”Aku manusia biasa yang punya kelemahan dan kelebihan. Aku akan berusaha menutupi kelemahanku dan meningkatkan kelebihanku”
Pemalas :”Habis aku kurang ganteng, kurang kaya, kurang pintar, kurang….”

Dunia itu…
Pemenang :”Bisa menjadi surga atau neraka, tergantung apa yang kita lakukan”
Pecundang :”Tidak adil, gelap,…bla bla bla”

Dalam memandang persoalan…
Penuh Semangat : lebih fokus ke sisi positif nya tanpa mengabaikan sisi negatif.
Pemalas : memandang segalanya serba negatif.

Sukses itu milik…
Penuh Semangat :”Semua orang. Hanya tergantung orangnya berani menggapai sukses atau tidak”
Pemalas :”Ahh.. dia kan anak konglomerat, keturunan bangsawan, koruptor,…Kalo saya mana bisa. Kan saya kurang cerdas, bapak saya bukan konglomerat,bla..bla..bla..”

Saat di kritik…
Penuh Semangat : menutup telinga terhadap kritik yang melecehkan dan menerima kritik yang membangun untuk mengevaluasi diri
Pemalas : memelototi orang yang mengkritiknya sambil mengacungkan tinju.

Untuk mencapai sukses…
Penuh Semangat : mengandalkan usaha nya.
Pemalas : menunggu keberuntungan.

Belajar itu…
Penuh Semangat :”Wajib dilakukan sepanjang hidup. Tidak boleh berhenti belajar.”
Pemalas :”Gak penting banget. Emangnya anak sekolahan. Enakan juga tidur”

Ketika waktu terus berlalu…
Penuh Semangat : menemukan solusi sukses nya dan terus mengalami kemajuan dari waktu ke waktu
Pemalas :  tidak bertambah pengetahuan dan pencapaiannya, malah merasa senior dan sibuk membanggakan kalau dia sudah banyak makan asam garam.

Dan pada akhirnya…
Penuh Semangat : berdiri dengan bangganya di puncak kesuksesan.
Pemalas : menonton dari bawah, dengan penuh iri hati lalu mengumpat, menjelek-jelekan si pemenang, berprasangka buruk, mengeluh, dan sibuk membuat pembenaran untuk diri sendiri.
Read Post | komentar

Rahasia dibalik Makna Tidur

Kamis, 01 Oktober 2009




Sahabat, pernahkah Anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia tidur? kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Anda akan melihat pada saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika tidur, sudah tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah Ayah Anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya.Orang inilah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah ke Ibu Anda. Hmm....kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai - belai tubuh kita saat bayi kini kasar karena terpaan hidup yang keras. Beliau inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Beliau inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomelin kita, semata-mata karena rasa kasih dan sayangnya, justru sikap Beliau itu sering kita salah artikan.

Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu....Ayah, Ibu, suami, istri, kakak, adik, anak, sahabat...semuanya orang - orang yang tercinta. Rasakan energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu. Rasakan getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah di lakukan orang - orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.

Tuhan memang Maha mengatur segalanya, sehingga pengorbanan hidup itu bisa tampak lagi melalui wajah- wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkapkan segalanya, tanpa kata, tanpa suara dia berkata : " Betapa lelahnya aku hari ini" dan apa penyebab lelah itu ?.......ingatlah untuk siapa berlelah - lelah?

Tak lain adalah suami yang bekerja keras mencari nafkah dan istri yang bekerja mengurus, mendidik juga mengurus rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari - hari suka dan duka bersama kita.

Resapilah kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah - wajah mereka.....rasakan betapa kebahagian dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua........... bayangkan apa yang akan terjadi jika esok hari "orang - orang terkasih itu tertidur.....selamanya!" 

“Segera lakukan hal yang terbaik dan terindah dalam hidupmu sebelum ada rasa sangat bersalah yang selalu menghantui dirimu….!”
Read Post | komentar

Mensyukuri Anugerah




Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaan yang dimilikinya. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya. Sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya,"Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?"
Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.

Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu, "Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya."

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah . Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap kepada siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hidup adalah Anugerah

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar.
Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu.
Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu.
Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan yang telah kehilangan pasangan hidupnya.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu.
Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke surga.

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu.
Ingatlah akan seseorang yang begitu mengaharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatkannya.

Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai. Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.

Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh
Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.

Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu
Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain
Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu
Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu.


NIKMATILAH dan BERSYUKURLAH KEPADA TUHANMU, SETIAP SAAT DALAM HIDUPMU, KARENA MUNGKIN ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI!

Read Post | komentar

Kisah Nelayan & Pengusaha





Ini  cerita di pinggir pantai di sebuah dusun nelayan. Pada waktu menjelang makan siang ada seorang Pengusaha yang lagi asyik memperhatikan para nelayan pulang dan menurunkan hasil tangkapan ikan mereka. Para nelayan itu kemudian bersiap-siap untuk pulang ke rumah.

Pengusaha itu mendekat dan bertanya kepada salah satu nelayan, "Wahai Tuan, kalau tidak keberatan, bolehkan saya bertanya apa yang anda lakukan?" Nelayan itu menjawab, "Tuan, saya baru pulang dari melaut, saya senang karena hasil tangkapan ikan hari ini bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Jadi saya sekarang akan pulang dan makan siang dengan istri saya. Setelah makan siang saya akan tidur siang, nanti sore saya akan bangun dan bermain dengan anak-anak saya. Kemudian petangnya nanti setelah makan malam, saya akan ke gardu pos, bermain gitar sambil minum kopi dan memakan gorengan singkong bersama teman - teman. Hmm… sungguh Tuhan sangat bermurah hati dengan selalu memberi kenikmatan dan keindahan hidup pada hambaNYA"

Pengusaha itu kemudian berkata, "Tuan, apabila tidak keberatan saya ingin memberikan sedikit saran. Saya adalah Pengusaha sukses dan terkenal di Negara ini, dan saat ini saya sedang menikmati berlibur. Jika tidak keberatan, Saya ingin memberikan saran untuk menolong Anda. Bagaimana kalau Anda pergi melaut lagi sehabis makan siang nanti? Dengan begitu Anda dapat menangkap ikan yang jumlahnya dua kali lipat dari biasanya. Dari hasil tersebut Anda bisa mendapat lebih banyak uang. Dan dengan uang itu dalam beberapa bulan Anda bisa memiliki & menggaji pegawai dan serta menambah beberapa perahu lagi, sehingga jumlah ikan yang Anda tangkap menjadi beberapa kali lipat."


"Dengan cara seperti ini dalam kurun waktu 5 atau 6 tahun Anda bisa menjadi juragan besar pemilik armada berpuluh-puluh perahu nelayan. Setelah itu anda bisa memiliki kantor dan beberapa bulan kemudian Anda bisa memindahkan kantor perusahaan Anda ke sebuah kota besar dan melebarkan sayap usaha Anda ke bidang-bidang bisnis lainnya. Sebagai seorang Direktur dari perusahaan besar, Anda bisa menambah pendapatan Anda lebih besar. Kemudian daftarkan perusahaan Anda pada bursa saham dan 'go public' untuk menjaring modal yang lebih banyak lagi. Kemudian Anda beli kembali saham Anda sehingga harganya semakin naik agar nantinya bisa menjual semua saham Anda dengan harga yang lebih tinggi. Setelah itu Anda bisa pensiun dengan nyaman."

"Dalam tempo
lima puluh tahun Anda pasti akan pensiun sebagai seorang milyarder kaya raya, saya jamin itu karena saya seorang Pengusaha sukses dan sangat paham dengan urusan ini." Sang Nelayan tersebut mendengarkan dengan sangat seksama dan penuh rasa hormat. Di akhir pemaparan Pengusaha tersebut, Nelayan itu bertanya, "Tapi Tuan, apa yang akan saya lakukan dengan uang yang sangat banyak nanti?" Pengusaha itu tertegun untuk beberapa saat, ada rasa aneh menyelimuti pikiran Pengusaha ini, kenapa tidak pernah memikirkan rencana bisnisnya sampai sejauh ini. Satu-satunya hal yang terlintas dalam pikirannya adalah bagaimana cara untuk menghasilkan lebih banyak uang, tapi tidak pernah terpikir olehnya untuk apa uang tersebut akan digunakan.

Pengusaha itu kemudian menjawab, "Dengan uang itu nanti Anda bisa pensiun, santai, bisa liburan di kampung nelayan yang tenang dan nyaman, seperti kampung ini contohnya. Anda bisa membeli perahu kecil dan pergi menangkap ikan untuk bersenang-senang di pagi hari dan pulang di siang hari untuk makan siang bersama istri Anda. Kemudian Anda bisa tidur siang dan bermalas-malasan atau bermain dengan anak-anak. Petang harinya Anda bebas pergi kemana saja dan bersenang-senang dengan teman Anda."


Nelayan tersebut menjawab "Tapi Tuan, bukankah itu semuanya sudah saya lakukan seperti saat ini?" Pengusaha itu terdiam dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Sahabat seringkali hal ini terjadi, banyak orang memandang remeh warna kehidupan orang lain yang dianggap lebih miskin dan tidak seber-untung darinya. Dan baginya hidup itu harus diisi dengan kerja keras dan menjadi kaya raya, yang dikemudian hari tinggal bersantai menikmati hasil jerih payah dengan kehidupan yang bebas dan bermalas - malasan. Sementara tanpa disadari, apa yang mereka capai dengan  bersusah payah memenuhi waktu hidup mereka dengan segala perjuangan, ternyata pada akhirnya hanya supaya dapat hidup seperti orang miskin.

Read Post | komentar
 
© Copyright JAWA TIMURAN 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all